HIPERTENSI
HIPERTENSI

HIPERTENSI

Hipertensi (HTN) atau tekanan darah tinggi, kadang-kadang disebut juga dengan hipertensi arteri, adalah kondisi medis kronis dengan tekanan darah di arteri meningkat. Peningkatan ini menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya untuk mengedarkan darah melalui pembuluh darah. Tekanan darah melibatkan dua pengukuran, sistolik dan diastolik, tergantung apakah otot jantung berkontraksi (sistole) atau berelaksasi di antara denyut (diastole). Tekanan darah normal pada saat istirahat adalah dalam kisaran sistolik (bacaan atas) 100–140 mmHg dan diastolik (bacaan bawah) 60–90 mmHg. Tekanan darah tinggi terjadi bila terus-menerus berada pada 140/90 mmHg atau lebih.

















































Klasifikasi (JNC7)Tekanan sistolikTekanan diastolik
mmHgkPammHgkPa
Normal90–11912–15,960–798,0–10,5
Pra-hipertensi120–13916,0–18,580–8910,7–11,9
Hipertensi Derajat 1140–15918,7–21,290–9912,0–13,2
Hipertensi Derajat 2≥160≥21,3≥100≥13,3
Hipertensi sistolik
tersendiri
≥140≥18,7<90<12,0

Hipertensi perlu diwaspadai karena kebanyakan orang tidak merasakan gejalanya. Hipertensi juga bisa dialami semua usia dan efeknya ke seluruh tubuh, mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Tekanan darah tinggi yang berkelanjutan dapat mengakibatkan pembuluh darah arteri menjadi rusak dan akhirnya mengeras atau dikenal dengan istilah aterosklerosis atau pengerasan arteri. Selain mengeras pembuluh darah juga akan menyempit hal ini bisa berakibat pada gagal jantung.

[caption id="attachment_724" align="aligncenter" width="590"]Hipertensi Hipertensi (Ilustrasi/pixabay)[/caption]

Jika penyumbatan terjadi pada arteri jantung (arteri koroner) akibatnya tidak memungkinkan darah mengalir bebas ke dalam jantung Anda, Anda mengalami apa yang disebut sebagai penyakit jantung koroner. Hipertensi meningkatkan risiko penyakit jantung koroner karena tekanan darah yang terus-menerus tinggi membebani dinding arteri. Seiring waktu, tekanan ekstra ini dapat merusak arteri. Pembuluh arteri yang terluka lebih mungkin untuk menyempit dan mengeras oleh deposit lemak (plak).

Faktor Penyebab Hipertensi

Tekanan darah seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor yang memegang peranan penting adalah jenis makanan yang di konsumsi sehari-hari, di samping faktor-faktor lain seperti usia, jenis kelamin dan ras, keturunan, kegemukan, stres pikiran dan fisik, kepribadian tipe A yang ambisius dan gila kerja (workaholic), merokok, dan sebagainya.

Makanan yang dikonsumsi sehari-hari merupakan salah satu faktor penting pemicu hipertensi. Mengonsumsi garam yang berlebihan maupun diet tidak seimbang juga meningkatkan resiko terkena hipertensi. Yang dimaksud diet tidak seimbang adalah diet tinggi lemak dan gula, serta rendah serat dan buah-buahan. Garam dapat menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh, karena natrium yang terkandung dalam garam bersifat menarik air, yang pada akhirnya akan meningkatkan volume dan tekanan darah. Kandungan garam yang kita konsumsi sehari-hari sebaiknya tidak lebih dari 6 gram per hari. Semakin tua usia seseorang, tekanan darahnya akan semakin meningkat pula. Hal ini menyebabkan resiko terkena stroke menjadi lebih besar. Untuk orang berusia diatas 50 tahun, tekanan darah sistolik yang melebihi 140 mmHg dianggap sebagai faktor resiko stroke yang lebih besar dibandingkan dengan tekanan darah diastolik yang tinggi.

Faktor genetik juga tidak bisa dilepaskan dari hipertensi. Seorang anak dengan kedua orangtua yang mengidap hipertensi, kemungkinan besar akan juga mengidap hipertensi pada usia dewasa nanti. Faktor-faktor lainnya seperti stres  karena pekerjaan, kecapekan, dan kurang istirahat, tipe kepribadian A yang ambisius dan perfeksionis serta gila kerja juga bisa menjadi pemicu hipertensi.

Tekanan darah yang meningkat secara perlahan akan merusak dinding pembuluh darah dengan memperkeras arteri dan mendorong terbentuknya bekuan darah dan aneurisme, yang pada akhirnya akan menyebabkan stroke, terutama pada orang yang berusia di atas 45 tahun.

Gejala Penyakit Hipertensi

Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala. Meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala penyakit hipertensi yang dimaksud yaitu sakit kepala, pendarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan, dan kelelahan. Padahal, gejala tersebut bisa terjadi pada penderita hipertensi maupun pada seseorang dengan tekanan darah normal.

Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak napas, gelisah dan pandangan menjadi kabur karena kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal. Gejala penyakit hipertensi bervariasi pada masing-masing individu dan hampir sama dengan gejala penyakit lainnya. Gejala-gejalanya itu adalah :

  • Sakit kepala

  • Jantung berdebar-debar

  • Sulit bernapas setelah bekerja keras atau mengangkat beban berat

  • Mudah lelah.

  • Penglihatan kabur

  • Wajah memerah

  • Hidung berdarah

  • Sering buang air kecil, terutama di malam hari

  • Telinga berdenging (tinnitus)

  • Dunia terasa berputar (vertigo)


Cara terbaik memastikan gejala penyakit hipertensi adalah dengan melakukan pengukuran tekanan darah. Tekanan darah adalah kekuatan darah mengalir di dinding pembuluh darah yang keluar dari jantung (pembuluh arteri) dan yang akan kembali ke jantung (pembuluh balik). Karena itu, dokter akan memeriksa tekanan darah dari dua bacaan.

Bacaan yang pertama, berupa angka yang lebih tinggi, adalah tekanan sistolik, tekanan yang terjadi bila otot jantung berdenyut memompa untuk mendorong darah keluar melalui arteri. Angka itu menunjukkan seberapa kuat jantung memompa untuk mendorong darah melalui pembluh darah. Sedangkan bacaan yang kedua, berupa angka yang lebih rendah atau diastolik, saat otot jantung berisitirahat membiarkan darah kembali masuk ke jantung. Angka itu menunjukkan berapa besar hambatan dari pembuluh darah terhadap aliran darah balik ke jantung.

Bagaimana mengurangi risiko hipertensi?
Pada hipertensi sekunder, hipertensi harus di atasi dengan menghilangkan penyebabnya. Walaupun hipertensi primer tidak memiliki penyebab spesifik, ada sejumlah faktor risiko yang memicu kehadirannya. Berikut adalah hal yang mengurangi risiko Anda bila sudah terkena hipertensi primer:

1. Jalani pola atau gaya hidup yang lebih sehat:

  • berhenti merokok

  • mengurangi berat badan (bila kegemukan)

  • mengurangi konsumsi garam sehingga asupan sodium kurang dari 100 mmol/hari

  • melakukan olah raga 30-45 menit per hari.

  • bila Anda menderita diabetes, jaga kondisi agar kadar gula darah terkendali


2. Dengan bantuan suplemen atau obat-obatan, usahakan untuk mengendalikan tekanan darah tidak lebih dari 140/90 mmHg (atau 135/85 mmHg bila menderita diabetes). Ada tiga kategori umum obat antihipertensi, yaitu yang berfungsi mengurangi volume darah (diuretic), menekan resistensi pembuluh darah (vasodilator) dan mengurangi kerja jantung (cardioinhibitory).
Advertisement

Baca juga:

Your Reactions:

Admin
Seorang ibu rumah tangga dengan sepasang putra-putri yang mendambakan keluarganya hidup sehat, bahagia, dan bermanfaat bagi keluarga dan orang lain. Baginya, kesehatan merupakan karunia Allah yang harus dijaga, dan itu merupakan salah satu kekayaan yang paling berharga.